Selalu ingat hal-hal terkecil dalam hidup

Tak dapat dipungkiri lagi bahwa manusia itu memiliki tujuan hidup dan itu penting sekali. Apa jadinya manusia yang tidak memiliki tujuan hidup??. Berbicara mengenai tujuan hidup, setiap tujuan hidup yang dimiliki oleh masing individu akan di tempuh dengan berbagai cara sesuai dengan individu-individu tersebut. Mengenai hal tersebut ada sebuah kisah yang menarik untuk diperhatikan, sebuah kisah tentang perjuangan dan kerja keras mencapai tujuan.

Kisah ini berawal dari anak muda bernama Iwan Setyawan. Ia lahir di tahun 1974 dari desa udik di pinggiran kota Malang. Ayahnya hanya sopir angkot, dengan penghasilan yang amat pas-pasan. Ibunya hanya ibu rumah tangga biasa, yang tak kenal letih membesarkan dan mendidik anak-anaknya dengan penuh kesederhanaan.

Iwan menghabiskan masa kecil dan remajanya dalam hidup yang serba muram : lantai rumahnya hanyalah tanah tanpa tembok, ia harus berjualan makanan saat remaja demi menyambung biaya sekolahnya; dan ibu-nya berkali-kali menggadaikan apa yang ia punya hingga tandas. Semua demi menyambung hidup, demi membiayai pendidikan anak-anaknya.

Ia lalu menebus lelakon hidup yang muram itu dengan ketekunan belajar yang luar biasa : tak kenal letih ia belajar ditemani lampu petromaks yang kian redup. Ia meretas prestasi yang mengesankan saat SMA, hingga ia mendapat PMDK untuk kuliah di jurusan Statistik, IPB Bogor. Dari sinilah, pelan-pelan tirai hidup yang lebih terang disibak.

Selulus dari IPB, ia diterima bekerja di Nielsen Company, Jakarta : sebuah perusahaan riset pemasaran global yang ternama. Lantaran prestasi kerjanya yang mencorong, ia kemudian di-tugaskan untuk bekerja di kantor pusat Nielsen di New York. Selama 10 tahun ia berkelana di Manhattan, hingga mendudukup posisi Director, Client Management Nielsen Global Co.

– See more at: http://strategimanajemen.net/2012/11/26/kisah-tentang-anak-supir-angkot-yang-jadi-direktur-di-new-york/#sthash.TUPwxbPs.dpuf

Hikmah apa yang dapat kalian ambil setelah membaca kisah tersebut? Seperti yang telah aku utarakan kisah ini menceritakan sebuah perjuangan dan kerja keras yang dialami oleh Iwan sehingga mendapat posisi director. Namun apakah sesungguhnya hikmah yang sering kita lupakan bahkan kita mengabaikannya??

Hikmah itu adalah bahwa segala sesuatu yang besar itu dimulai dari yang kecil, dan ketika sudah mencapai kesuksesan kita sebagai manusia lalai bahwa untuk mencapai semua ini kita mulai dari yang kecil. Tak semua orang memiliki watak seperti itu, akan tetapi lebih banyak manusia yang berpikiran seperti itu. Cobalah kita pikirkan kembali bagaimana cara kita menempuh tujuan kita hingga menjadi diri kita yang sekarang? Apakah lebih banyak mengeluh ketimbang bersyukur? Sudahkah menghargai waktu ketika menempuh tujuan hidup kita?

Oleh karena itu kawan, renungkan kembali tujuan hidup kita dan cara untuk menempuh tujuan itu. Jangan sampai ketika perjalanan kita melakukan cara yang tidak dibernarkan. Dan yang terpenting adalah jangan melupakan hal-hal terkecil meskipun itu sebesar biji sawi dalam perjalanan kita. Tak lupa selalu ingat bahwa diatas tujuan hidup kita di dunia ini semata-mata hanyalah bekal untuk di akhirat kelak, yang ini berarti tujuan ke akhirat adalah jadi tujuan yang utama diantara tujuan-tujuan hidup kita.

Dari ‘Aisyah binti Abi Bakr Ash-shiddiq –radhiallahu anhuma- berkata : Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda : “Amalan yang lebih dicintai Allah adalah amalan yang terus-menerus  dilakukan walaupun sedikit.” (HR Bukhari dan Muslim, dengan lafazh Muslim)[1]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s