Aside

Inilah yang disebut hari kasih sayang :)

14 Februari 2014, Sebuah tanggal yang tak akan kulupakan, sebuah tanggal yang memberikan makna dan sebuah tanggal yang notabene orang menyebutnya hari kasih sayang. Teringat akan kasih sayang, aku tak pernah mengkhususkan satu hari untuk kasih sayang, bagiku setiap hari yang terukir dalam hidupku merupakan hari-hari yang penuh kasih sayang. Namun tepat pada tahun ini 14 Februari menjadi hari yang luar biasa dan Desa Tulungrejo,Pare,Kediri menjadi saksi biksu menyaksikan hari yang luar biasa ini.

Berawal pada pukul 10.00, 13 Februari 2014 ketika itu aku hendak tidur melepaskan segala kepenatan, kelelahan yang telah kulalui seharian. Ritual sebelum tidurpun aku laksanakan, doapun terucap semoga hari esok menjadi hal yang luar biasa dan aku mulai menutup mataku. Tanpa butuh waktu lama aku pun sudah tak sadarkan diri dan beranjak ke alam mimpi. Pukul 11.00, 13 Februari 2014, aku tak tahu tepatnya kapan tiba-tiba saja suara teriakan, suara orang berlarian mengacaukanku dan sontakku terbangun ikut berlarian menuju beranda depan. Seketika itu pula aku yang belum tersadarkan sepenuhnya terkejut melihat petir merah di langit dan hujan kerikil berjatuhan dengan cepat. Aku pun kembali masuk kedalam rumah karena ngeri melihat hal itu dan ingin melanjutkan tidurku kembali. Beberapa langkah lagi aku akan menaiki kasurku, seketika seluruh ruangan menjadi gelap gulita. Semua orang begitu panik, beberapa orang berlarian menuju tempatnya masing-masing, dan beberapa orang berusaha mencari lilin dan menyalakannya dan hingga akhirnya pun lilin dinyalakan, semua orang yang berada di lantai 2 ini berkumpul membentuk lingkaran didepan kamarku. Semua orang ketakutan dan panik, mungkin hanya aku dan salah seorang temanku saja yang hanya merasakan ingin segera tidur kembali. hahaha memang ya disaat banyak orang lain khawatir bisa-bisanya aku dan temanku ini memiliki pikiran untuk tidur kembali, entahlah bisa jadi aku sudah bersahabat dengan aktivitas merapi selama ini. Selama beberapa menit kami saling bercerita dan berdoa bersama-sama berharap kami semua selamat. Suasana pun mulai tenang kembali, semua orang yang berkumpul di depan kamarku kembali ke kamar mereka masing-masing termasuk aku dan tiga orang teman yang sekamar denganku dan kemudian kami melanjutkan tidur lagi.

Tepat pukul 03.00 pagi, tentor di campku berteriak “miss…. miss ayo kemas-kemas barang-barangnya, bawa barang seperlunya yang penting-penting aja dimasukkan ke dalam tas, kita akan pergi mengungsi”. Sontak mendengar hal tersebut semua orang yang berada di camp mulai bersiap-siap berkemas-kemas barang yang penting. Kami semua penghuni lantai atas akhirnya turun kebawah dan keluar dari camp dan menunggu jemputan mobil untuk membawa kami ke tempat pengungsian. Suasana kembali menjadi tegang, mengapa kami harus mengungsi?? pikirku saat itu. Namun aku hanyalah bisa menurut kata-kata tentorku itu. Tak lama menunggu jemputan mobil pun datang, sontak uka langsung menggandeng tanganku dan berkata “ayo git cepet kita segera ke mobil”. Mobil pun terisi penuh dan kemudian kami segera berangkat untuk menikmati wisata malam ke Jombang. Untuk menghilangkan kepanikan, kami semua berbincang dengan bapak supirnya bercerita tentang kelud dsb begitu terus sepanjang perjalanan. Hal yang paling tidak disangka adalah ternyata teman sekamarku uka, aisyah, ain berada di mobil itu, hahaha padahal kami semua tidak janjian untuk menaiki mobil itu. Memang saat itu aku bersama uka, aisyah dengan ain. Ckckck ya itulah orang yang sigap dan cepat tanggap mengenai situasi ini. Tak lama kemudian sampailah kami ke tempat tujuan yaitu di salah satu Masjid Agung di Jombang. Sesampainya disana tak kusangka sudah banyak orang yang menghuni tempat itu. Semua anak-anak camp yang berada di naungan salah satu kursus di pare berada disitu. Dan yang paling mengharukan ialah seluruh teman dan kerabat semuanya menghubungiku semua menanyakan kabar, kondisi dan lainnya. Memang disaat seperti inilah kepedulian orang semakin meningkat, dan justru dari kejadian inilah kami semua penghuni camp orchid khususnya penghuni lantai atas semakin akrab. Karena kejadian ini pula banyak orang gugur satu persatu meninggalkan pare takut akan terjadi hal yang mengerikan. Begitulah proses seleksi alam, siapa yang memiliki niat kuat yang akan bertahan. Just simple think  dan itu manjur sekali.

Sungguh sekali lagi inilah pengalaman yang paling tidak aku duga sebelumnya dan kembali bertambah kisah cerita yang indah, mengharukan dalam hidupku. Kisah ini tak akan pernah kulupakan dalam hidupku, kisah yang memberikan pelajaran berharga bagiku.🙂

#storyfrompare

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s