open your eyes, mind, ear

Sudah hampir 3 bulan aku berada disini dan akan segera berakhir, tentu saja berbagai rangkaian kisah telah aku lalui. Harus dari manakah kisah ini dimulai?? Terlalu banyak kisah yang pelik didalamnya, mungkin kesannya mendramatisir dan memang faktanya hal itulah yang aku rasakan dan jika bisa memahami setiap orang memiliki kisahnya masing-masing. Kisah ini adalah kelanjutan dari kisah sebelumnya, dimana pada kisah sebelumnya aku berada didalam sekelompok orang yang memang bertempramen sama denganku atau bisa dibilang aku sengaja memilih lingkungan yang seperti itu. Ya aku memanglah seorang yang pemilih terutama dalam lingkungan pergaulan untuk diriku sendiri, aku tak ingin terjerumus ke dalam hal-hal yang tak kuinginkan, aku tak ingin dipengaruhi oleh hal-hal yang buruk. Mengingat akan apa yang pernah menimpaku beberapa tahun yang lalu membuatku menjadi seseorang yang benar-benar pemilih dan tanpa disadari aku pun telah menutup mata, pikiran dan telinga. Apakah pilihanku ini benar? Aku tak tahu pasti, satu hal yang aku ketahui dari semua itu ialah aku terlena.

Terlena?? Bukankah hal itu yang bagus, aku berada di dalam lingkungan baik dan tentunya aku akan terciprat harumnya kebaikan tersebut yang bisa jadi sebagian orang ingin berada diposisiku. Justru kini kusadari bahwa semua itu hanya membuat terlena, dimana keterlenaan itu membuatku lupa bahwa dunia ini luas dan itu membuatku lagi-lagi terjebak dalam comfort zone.

Hingga ketika hari aku memutuskan untuk menantang diriku masuk kedalam dunia yang orang –orang sebut sebagai hutan liar yaitu kerja. Seminggu berlalu semenjak itu, aku mulai merasakan gejolak-gejolak batinku  “kurasa aku takkan bertahan disini, aku tak bisa berlama-lama disini”. Kalimat-kalimat itu selalu terbang didalam pikiranku, bagaimana tidak? Aku yang telah terbiasa dengan lingkungan yang seperti itu dan harus berada di lingkungan yang tak pernah kubayangkan untuk kumasuki. Bahkan ketika itu aku tak menyadari bahwa apa yang terjadi padaku adalah suatu ujian yang harus aku lalui, mau tak mau suka tak suka aku harus dapat naik ke tingkat selanjutnya. Hampir satu bulan keadaan itu menimpaku batinku tersiksa, bahkan tak ada seorang pun yang paham akan perasaanku hingga seorang kawanku berkata kepadaku untuk mencoba mendekat kepada Tuhan. Aku melakukan saran yang dia katakan padaku, singkat cerita aku putuskan untuk bertahan disini. Aku akan memenuhi semua yang menjadi kewajibanku. Konflik batin tersebut selalu saja membayangiku hingga kini dan lagi-lagi pikiranku berkata “apakah aku belum lulus dalam ujian kali ini?”. Bisa jadi aku sudah lulus, bisa jadi aku belum lulus ujian ini.

Seperti yang aku katakan di awal tadi hampir tiga bulan ini aku telah memperoleh banyak kisah yang dapat ku petik hikmahnya baik itu dari orang lain atau dari diriku sendiri. Namun dari semua kisah itu  aku dapat mengambil salah satu hikmah yang harus aku tanamkan saat ini dan seterusnya yaitu untuk membuka mata, pikiran, dan telinga. Bahwa di dunia ini penuh dengan hal-hal yang tak terduga, seberapa keras rencana-rencana kehidupan yang telah disusun untuk beberapa tahun kedepan ataupun untuk beberapa hari kedepan akan selalu ada kejutan-kejutan yang akan membuatmu terpana akan hal itu.

Seperti pedoman di dalam investasi yaitu high risk high return dan seperti perkataan guru fisikaku saat sma, hidup ini berlaku sistem seleksi alam. Sudah pasti orang yang dapat bertahan dalam sistem seleksi alam itu adalah orang yang dekat kepada Tuhan, dapat melihat, mendengar dan merasakan. Aku teringat seseorang pernah berkata kepadaku bahwa untuk tidak mengatakan bahwa dunia ini keras ataupun kejam namun aku pikir kembali bisa jadi Tuhan sengaja berencana untuk membuat dunia ini kejam untuk menguji seberapa dekat orang itu dekat dengan Tuhan dan bagaimana usaha untuk menghadapi dunia yang kejam ini apakah dia akan tetap berdiam, melangkah perlahan ataupun berlari?. Wallahu a’lam semua jawaban itu hanyalah Tuhan yang tahu, saat ini yang harus dilakukan ialah untuk selalu menghadirkan Tuhan dalam hidup dan melanjutkan kisah hidup seberapapun sulitnya itu. Seperti diibaratkan ujian akhir semester, kita akan selalu menghadapi beberapa rangkaian persoalan yang harus dijawab dan jika lulus akan melanjutkan ke tingkat selanjutnya hingga pada akhirnya akan sampai pada tingkat akhir.

 

saat aku tak mampu tuk merangkai kisahku.

5 thoughts on “open your eyes, mind, ear

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s